JENTERANEWS.com — Kematian tragis seorang anak laki-laki berusia 12 tahun berinisial NS, warga Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, menyisakan tanda tanya besar. Korban ditemukan meninggal dunia dengan kondisi memprihatinkan, dipenuhi sejumlah luka lebam dan luka bakar di sekujur tubuh. Kasus ini kini tengah dalam penanganan intensif pihak kepolisian dan tim medis.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi, Kombes Pol Carles Siagian, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan serangkaian proses autopsi guna menguak penyebab pasti kematian korban.
“Kami dari RS Bhayangkara Tingkat II Kota Sukabumi menerima laporan dari Polres Sukabumi pada Kamis malam. Jenazah kami terima pada Jumat dini hari, dan hari ini (Jumat, 20/2) dokter forensik telah melakukan autopsi,” ujar Kombes Carles kepada awak media.
Dalam proses autopsi yang memakan waktu sekitar 2,5 hingga 3 jam, tim forensik menemukan sejumlah kejanggalan pada fisik korban. Berdasarkan pemeriksaan awal, berikut adalah temuan utama pada jenazah NS:
-
Luka Bakar Ekstrem: Ditemukan luka bakar yang tersebar luas, meliputi anggota gerak badan (lengan, kaki, paha, dan tangan), terutama pada kaki kiri dan punggung.
-
Luka Area Wajah: Terdapat luka di area bibir dan hidung yang diduga kuat diakibatkan oleh paparan suhu panas. Luka di area bibir atas dan dekat hidung ini juga diidentifikasi sebagai luka lama.
-
Nihil Kekerasan Tumpul: Tim forensik memastikan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau benturan akibat benda tumpul pada tubuh korban.
Terkait temuan luka bakar tersebut, pihak kepolisian belum berani menyimpulkan apakah hal itu merupakan akibat dari tindak pidana penganiayaan atau kecelakaan murni.
“Kami tidak bisa menyebutkan apakah itu kekerasan atau bukan. Namun, sepertinya tubuh korban terkena paparan panas yang menyebabkan luka bakar tersebut,” jelas Carles.
Meski kondisi tubuh korban dipenuhi luka bakar, Kombes Carles menegaskan bahwa secara teori medis, luka-luka tersebut seharusnya tidak memicu kematian seketika. Hal ini yang membuat penyebab pasti meninggalnya NS masih menjadi misteri.
Untuk mendalami kasus ini, tim forensik telah mengambil langkah pemeriksaan organ dalam secara menyeluruh. Terdapat indikasi pembengkakan ringan pada organ vital korban.
“Jantung dan paru-paru kami periksa karena ada sedikit membengkak. Kami belum tahu apakah itu disebabkan karena korban memiliki riwayat penyakit sebelumnya atau ada faktor lain,” tambah Carles.
Saat ini, sampel organ tubuh korban telah dikirim ke laboratorium di Jakarta untuk pengujian lebih lanjut. Langkah ini diambil untuk mendeteksi kemungkinan adanya zat-zat asing atau racun di dalam tubuh korban.
Kasus kematian NS kini menjadi perhatian serius aparat penegak hukum dan masyarakat setempat. “Ini memang menjadi perhatian penuh kami, karena sangat disayangkan seorang anak di bawah umur harus menjadi korban dalam tragedi seperti ini,” tutup Kombes Carles. Pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan mendalam sembari menunggu hasil resmi dari laboratorium forensik.(*)
Editor: Hamjah















