JENTERANEWS.com – Aksi nekat seorang pria yang diduga preman di Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, berakhir sial. Niatnya memalak sopir sebuah mobil boks kandas setelah salah satu penumpang yang ternyata anggota Brigade Mobil (Brimob) berseragam lengkap turun tangan.
Peristiwa yang terekam kamera dan viral di media sosial akhir pekan ini terjadi di Jalan Raya Provinsi, tepatnya di Kampung Padabeunghar, Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampangtengah, pada Jumat (13/6/2025) sekitar pukul 11.00 WIB. Insiden ini kembali menyorot masalah premanisme berkedok jual beli yang telah lama meresahkan warga dan para pengemudi.
Dalam video berdurasi 1 menit 29 detik yang beredar luas, terlihat seorang pria dengan percaya diri mendekati mobil boks yang berhenti. Dengan modus klasik menawarkan air mineral, pria tersebut diduga kuat sedang melakukan praktik pemalakan.
Namun, rencananya berantakan ketika dari pintu penumpang turun seorang anggota Brimob dengan seragam dan atribut lengkap. Pria tersebut sontak panik. Sempat terjadi adu mulut sengit, di mana ia bersikeras hanya berjualan dan meminta untuk “saling menghargai” karena mengklaim lokasi tersebut adalah “wilayah kekuasaannya”.
Meski anggota Brimob tersebut dengan tegas memintanya untuk membiarkan kendaraan lewat, pria itu tetap bersikukuh meminta uang. Sikapnya yang tak bergeming memicu reaksi keras dari sang petugas, yang akhirnya membuatnya tak berkutik.
Video ini menuai pujian dari warganet. Banyak yang mengapresiasi ketegasan anggota Brimob dan berharap kejadian ini menjadi pemicu untuk menindak tegas praktik premanisme serupa di wilayah tersebut.
Kepala Desa Padabeunghar, Ence Rohendi, saat dikonfirmasi pada Minggu (15/6/2025), membenarkan identitas pelaku. Pria tersebut adalah warganya, berinisial IM (44), yang memang tinggal di lokasi kejadian.
Menurut Ence, IM bukanlah pemain baru. Ia dikenal sering meresahkan para sopir dengan modus yang sama dan telah beberapa kali berurusan dengan pihak berwenang.
“Saya juga baru tahu kejadian ini dari media sosial karena sedang ada kegiatan di kantor kecamatan. IM ini memang sering berulah. Bahkan sebelum saya menjabat sebagai kepala desa pun, dia sudah pernah ditahan karena kasus serupa, memaksa sopir membeli air mineral,” ungkap Ence.
Ence menjelaskan bahwa IM dan keluarganya membuka lapak sederhana berukuran sekitar 2×1 meter di pinggir jalan untuk menjual air mineral. Kegiatan ini dijalankan secara bergantian oleh IM, istri, anak, hingga kerabatnya, dari pagi hingga malam, dengan sasaran utama kendaraan-kendaraan besar.
Meskipun aksi IM dan keluarganya sangat meresahkan, penegakan hukum kerap menemui jalan buntu. Pihak kepolisian tidak dapat bertindak lebih jauh tanpa adanya laporan resmi dari korban yang merasa dirugikan.
“Saya sudah berkoordinasi dengan Polsek Jampangtengah. Kendalanya, mereka tidak bisa bertindak lebih jauh karena tidak ada laporan resmi yang masuk dari para korban,” jelas Ence.
Pemerintah desa bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas, lanjut Ence, sudah berulang kali memberikan edukasi dan teguran keras agar praktik jual beli tersebut tidak disertai unsur pemaksaan. Namun, segala upaya itu seakan mental.
“Kalau sekadar berjualan, tentu saja boleh. Tapi jangan sampai ada unsur pemaksaan. Kami dari pihak desa juga bingung menegurnya, karena dia selalu berdalih tidak melakukan pungli, hanya berjualan,” tambahnya dengan nada frustrasi.
Kini, meski aksi heroik anggota Brimob tersebut mendapat apresiasi, masalah premanisme berkedok dagang di jalur Jampangtengah ini tetap menjadi pekerjaan rumah yang sulit bagi aparat dan pemerintah setempat, menunggu keberanian para korban untuk melapor secara resmi.(*)
Reporter: Joko S
Redaktur: Hamjah















